Cari Artikel

TOUHOU KOUKISHIN - ADVENTURES OF SCARLET CURIOSITY REVIEW


Remilia Scarlet merasa sangat bosan dengan hari-harinya. Lewat surat kabar dia mendengar tentang monster kuat yang meneror pedesaan manusia. Bosan mengalahkan youkai yang lemah, Remilia keluar dari rumahnya untuk mengalahkan monster tadi. Setelah mencari kesana kemari monster itu tidak berhasil ditemukannya.

Sekembalinya ke rumahnya Remilia terkejut bukan main melihat isi rumahnya berantakan. Marah bercampur senang, Remilia mengira monster itu sengaja mendatanginya. Kini dia punya hal menarik untuk dilakukan, sekaligus membalas dendam atas kerusakan rumahnya.

Dirilis pertama kali tahun 2014 lalu dalam Comiket 86, Touhou Koukishin: Adventures of Scarlet Curiousity menjadi game yang laris. Game ini dibuat oleh developer indie yaitu Ankake Spa, yang sebelumnya merilis Youyou Kengeki Musou. Karena kualitasnya diatas rata-rata, Xseed Games merilis versi updatenya di Playstation 4 sebagai bagian Play, Doujin! Perbedaannya hanya pada peningkatan grafis dan menggunakan Bahasa Inggris. Di konsol judulnya juga berubah menjadi Touhou: Scarlet Curiousity. Versi PC nya ekslusif beredar di Jepang, tapi untungnya patch versi Inggris sudah tersedia.


Jika pernah bermain Youyou Kengeki Musou, mungkin tidak sulit membayangkan gameplaynya. Adventures of Scarlet Curiousity ini dibuat dari konsep dan engine yang sama. Pemain menjelajahi stage dari sudut pandang kamera diatas dengan aksi hack ‘n’slash mirip serial Ys dari Nihon Falcom. Kadang ada juga stage side scrolling action tapi hanya di bagian tertentu. Mirip Adol Christin, baik Remilia maupun Sakuya bisa melompat, menebas dan mengandalkan ketangkasan mereka membabat musuh. Ada sistem combo unik yang menaikkan damage dan peluang mengumpulkan item.

Yang paling menarik adalah saat melawan boss. Sudah tradisi Touhou jika bullet hell dan spell card wajib ada. Begitu pula di game ini. Pandai menghindari serangan adalah kunci bertahan hidup. Sekedar tips, seringlah melompat untuk menghindari terjangan peluru. Jika berhasil selamat, lancarkan serangan balik. Untungnya saat melawan boss ada pot-pot yang letaknya di sudut arena. Pot ini berisi life recover yang bisa memulihkan life bar pemain. Ini akan sangat membantu terutama jika pemain terlanjur menerima banyak peluru.

Walau ada elemen RPG, status karakter Anda tidak langsung naik begitu saja. Di Adventures of Scarlet Curiousity ada banyak sekali  item dan ini berguna untuk meningkatkan status. Baik itu attack, defense, speed dan special move. Ada tiga slot yang dimiliki tiap karakter dan disini bisa diisi dengan skill. Tiap skill digunakan membutuhkan SP. Ada senjata yang menyerang cepat tapi kecil peluangnya melakukan critical hit. Ada senjata yang membuat musuh sering menjatuhkan item ketika mati. Tapi senjata ini mempunyai damage yang rendah.


Yang agak mengganggu adalah ketika pemain harus melompat antar platform. Ini nilai minus yang juga terjadi di Youyou Kengeki Musou. Kadang ada stage dimana pemain harus melompat dengan presisi yang akurat. Jika gagal akan jatuh dan harus mengulangi lagi. Sedikit menjengkelkan karena butuh beberapa kali mencoba.

Sementara grafiknya tidak berbeda jauh dengan Youyou Kengeki Musou. Nilai plus permainan adalah soundtracknya yang cukup bagus. Diaransemen oleh Hachimitsu Lemon, game ini memasukkan banyak remix. Bukan hanya dari game resmi Touhou saja, karena juga mengambil dari album doujin Team Shanghai Alice.

Fans game Touhou dijamin akan menikmati Adventures of Scarlet Curiousity. Ini adalah sebuah game yang dibuat oleh fans dan ditujukan untuk fans. Sebuah pilihan alternatif karena game Touhou memang kebanyakan shooter. So, siapkah kamu menjelajahi Gensokyo yang indah sekali lagi? Silahkan unduh game cantik ini disini.

CAVE STORY: PETUALANGAN JELAJAH GUA BERGAYA RETRO


Jika ada game doujin yang paling populer selain serial Touhou, maka Cave Story adalah jawabannya. Cave Story yang judul aslinya adalah Doukutsu Monogatari adalah game hasil garapan seorang developer bernama Daisuke Amaya. Tidak sia-sia karena game yang digarap selama lima tahun itu menjadi hit di dunia maya. Ketika dirilis sebagai freeware untuk Windows tahun 2004 banyak pemain yang membicarakannya. Popularitas Cave Story membuat Nicalis tertarik untuk merilis versi konsolnya dengan kualitas audio visual yang lebih baik. Untuk versi PC yang berjudul Cave Story+ dirilis tahun 2011 via Steam dan Mac App.

Sekitar sepuluh tahun sebelumnya, Quote dan robot lain bernama Curly Brace dikirim ke sebuah pulau misterius. Konon di pulau itu ada sebuah artifak berupa mahkota yang sangat kuat yang diperebutkan banyak orang. Berbeda dengan orang lain yang ingin menguasainya, misi Quote dan Curly adalah menemukan dan kemudian menghancurkan mahkota tersebut.

Sayangnya Quote dan Curly terlambat. Mahkota itu telah lebih dulu jatuh ke tangan seorang manusia jahat bernama Miakid. Haus akan kekuatan, Miakid melepaskan seluruh kekuatan dari artifak itu dan membuat dirinya menjadi sangat kuat. Quote dan Curly mengerahkan seluruh senjata yang mereka miliki. Miakid memang berhasil dikalahkan, namun Quote dan Curly kehilangan seluruh daya mereka hingga tertidur selama sepuluh tahun lamanya. Sedangkan artifak itu sendiri hilang entah kemana.


Sepuluh tahun kemudian Quote terbangun kembali di sebuah gua bawah tanah tanpa memori apapun. Terpisah dari Curly, dia berjalan sendiri hingga sampai di sebuah desa yang dihuni sekelompok makhluk mirip kelinci bernama Mimiga. Quote menemukan jika para Mimiga tengah diperbudak oleh seorang ilmuwan gila yang juga menginginkan artifak itu. Dari sinilah petualangan Quote dimulai, menemukan kembali temannya yang hilang, melanjutkan misinya menghancurkan artifak dan akhirnya membebaskan para Mimiga.

Jika dilihat sepintas tidak ada yang istimewa dari Cave Story. Grafisnya biasa saja bahkan terkesan old school yang sekelas dengan game jaman 8 bit, tapi masih lebih baik. Cave Story tampil dengan warna-warni yang cerah hingga tidak membosankan. Bagaimana dengan kualitas audionya? Versi asli game ini masih menggunakan format midi. Jadi bisa ditebak bagaimana suara yang dihasilkan. Jadi kalau begitu Cave Story tidak menarik? Tunggu dulu. Memang itulah yang menjadi ciri khas dari game-game buatan Daisuke Amaya yang menonjolkan gameplay.

Walau sekilas terlihat remeh, ternyata game ini sungguh adiktif. Cave Story adalah kombinasi dari genre aksi, platformer dan RPG. Sehingga pemain tidak akan cukup hanya satu atau dua jam saja untuk merampungkannya. Walau bersetting di gua bawah tanah, ada banyak area yang bisa dijelajahi. Bahkan ada juga level rahasia yang hanya bisa dibuka dengan kondisi tertentu. Setiap area terhubung dengan sebuah alat teleportasi. Ini akan menghemat waktu pemain untuk berpindah tempat dalam sekejap. Karakter Anda terluka? Ingin menyimpan permainan? Jangan khawatir, ada banyak health restore devices dan save point. Namun karena terletak di titik tertentu, sebaiknya mengingat posisinya. 


Ada banyak item yang bisa dikumpulkan, namun yang menarik adalah senjata dalam permainan ini dapat ditingkatkan levelnya sehingga menjadi lebih kuat. Caranya adalah dengan mengumpulkan chip berbentuk segi tiga yang dijatuhkan oleh musuh yang dihancurkan. Namun sebaiknya berhati-hati karena jika Quote menerima serangan musuh, maka senjata tadi akan turun levelnya atau downgrade.

Akhirnya, Cave Story adalah game yang sebaiknya dimainkan. Ukurannya tidak lebih dari 2 MB. Kecil sekali memang, namun dijamin akan menghabiskan waktu luang Anda. Game ini juga mempunyai banyak ending yang dapat diperoleh berdasarkan pilihan yang diambil pemain selama permainan. Kabar baiknya lagi, game ini adalah freeware (kecuali versi cave Story+) dan telah diterjemahkan ke Bahasa Inggris. Anda bisa mengunduh versi asli Cave Story disini, atau jika ingin mencoba Cave Story+ bisa diunduh disini. Selamat menjelajah.

REVIEW LEGEND OF SCARLET DEVIL CASTLE II: STRANGER'S REQUIEM


Beberapa waktu setelah event dalam game pertamanya, Sakuya Izayoi sang kepala pelayan di Scarlet Devil Mansion kembali untuk memberikan sebuah buku pada majikannya. Sakuya mendapati rumah besar itu telah kosong dan Remilia tidak ada disana. Di tengah kebingungannya tiba-tiba Yukari Yakumo muncul dan mengatakan keberadaan Remilia. Mengikuti petunjuk Yukari, pencarian Sakuya dimulai dari sebuah reruntuhan istana. Lagi-lagi Remilia tidak berhasil ditemukan. Tapi Sakuya mendapatkan petunjuk lain. Tidak hanya tentang Remilia yang hilang, tapi juga rencana tersembunyi Yukari yang melibatkan Saigyou Ayakashi, sebuah pohon sakura yang terbesar di Hakyugokurou.

Koumajou Densetsu II: Yougen no Chingonka, atau yang dalam versi Inggrisnya disebut Legend of Scarlet Devil Castle II: Stranger's Requiem, adalah sekuel dari Scarlet Symphony. Game Touhou berdasarkan serial Castlevania ini dirilis dalam even Comiket 79, Desember 2010 dan memberikan lebih banyak upgrade dibanding prekuelnya. Selain grafis dan artwork yang lebih bagus, Stranger’s Requiem menampilkan voice acting dari para seiyuu (pengisi suara) ternama. Ini jelas sebuah lompatan besar untuk sebuah game indie. Saat ini versi Inggris dan Perancis sudah tersedia berupa patch update untuk versi 1.02 keatas.

Stranger's Requiem juga berisi banyak even yang terinspirasi dari beberapa seri Castlevania. Misalnya Komachi yang menjadi wanita pendayung perahu sama dengan pria tua di Simon's Quest, Rondo of Blood dan Symphony of the Night. Kemudian senjata spesial yang dikeluarkan para boss juga selalu ada di game aslinya; kapak (Meiling), Injil (Patchouli), air suci (Alice) dan bumerang (Reimu). Di final stage Remilia meniru mimik pose dari drakula dalam Symphony of the Night dan Aria of Sorrow. Selain itu itu masih banyak contoh lainnya dan fans sejati Castlevania mungkin bisa mengingatnya.


Gameplay Stranger's Requiem pada intinya sama dengan Castlevania klasik, hanya saja kali ini karakter utama adalah Sakuya yang menggantikan Reimu. Gaya Sakuya hampir sama seperti Alucard dalam Castlevania: Symphony of the Night. Senjata utama Sakuya adalah pisau, dan dengan menekan tombol arah dan serangan, maka akan menghasilkan efek yang berbeda. Misalnya dengan menekan panah atas+serang, Sakuya otomatis akan menebaskan pisaunya berkali-kali (menguras ¼ MP). Dengan menekan panah bawah+serang saat di udara, maka Sakuya akan melakukan tendangan diagonal.

Sakuya juga bisa melayang seperti Reimu di game sebelumnya, hanya saja waktunya kini lebih terbatas. Gerakan baru lainnya adalah backflip atau melompat ke belakang dengan cepat. Pada saat backflip serangan lawan tidak akan bisa mengenai Sakuya dan ini sangat berguna untuk menghindari peluru atau proyektil. Selain pisau Sakuya juga bisa membawa item spesial seperti stopwatch untuk menghentikan waktu. Sama dengan sebelumnya, para boss yang berhasil dikalahkan otomatis akan membantu Sakuya dan bisa dipanggil sewaktu-waktu jika Sakuya mempunyai soul yang cukup. Namun begitu hanya tiga item spesial yang bisa dibawa Sakuya di setiap stagenya.

Magic Points atau MP dibutuhkan pemain untuk mengeluarkan item spesial atau memanggil bantuan. MP akan berkurang setiap kali digunakan, namun dapat diisi dengan menghancurkan lilin atau membunuh musuh. Dari situ akan ada soul yang bisa dikumpulkan. Soul ini bertindak seperti kristal merah pada game pertamanya, atau hati pada serial Castlevania. Semakin kuat musuh, maka soul yang didapat juga semakin banyak. Begitu juga sebaliknya, semakin hebat item spesial, maka butuh soul semakin banyak pula. Jumlah maksimum soul yang bisa dibawa di setiap levelnya adalah 999.


Karena tingkat kesulitan lebih tinggi, ada beberapa checkpoint di setiap stagenya. Pemain akan mengulang dari checkpoint terakhir jika Sakuya mati ditambah minimal 50 soul. Pemain juga bisa mengulang kembali stage yang sudah mereka lewati dengan memilih continue pada menu option. Jika pemain berhasil menyelesaikan permainan, maka dua mode baru yaitu Omake dan Phantasm tersedia di menu awal. Omake hanya berisi dialog singkat antar karakter dalam permainan ini. Sedangkan Phantasm sama dengan New Game Extra di game sebelumnya dimana musuh baru dan kesulitan yang lebih tinggi siap menantang pemain.

Untuk urusan soundtrack, Eiichiro Yanagi masih diberi kepercayaan oleh Frontier Aja. Pada game kedua ini soundtrack terdengar lebih rock dari sebelumnya, tapi tetap enak untuk didengarkan. Aura serial Castlevania memang epik. Terlalu singkat, itu saja kelemahannya. Anda bisa mengunduh Legend of Scarlet Devil Castle II: Stranger's Requiem disini.

GYROMANCER: PUZZLE RPG KEREN KOLABORASI POPCAP GAMES DAN SQUARE ENIX


Gyromancer adalah sebuah proyek yang sangat langka antara PopCap Games dan Square Enix. Berawal dari sekedar gurauan bagian kreatif PopCap Games Jason Kapalka pada Square Enix tahun 2007. Terinspirasi dari Puzzle Quest yang sedang booming saat itu, kedua perusahaan tadi membuat Gyromancer. Game yang dirilis tahun 2009 untuk Windows dan Xbox 360 itu mendapat respon positif berkat gameplaynya yang adiktif dan fun.

Rivel Arday adalah summoner abadi yang diberi tugas oleh Raja Yshmea memburu kelompok pemberontak Temperance. Kelompok ini membunuh keluarga bangsawan Laertes dan melarikan diri ke hutan Aldemona. Rivel harus berpacu dengan waktu karena kekuatan magis hutan ini menjebak orang-orang yang yang kebetulan ada didalamnya. Rumor mengatakan Aldemona juga menyimpan kekuatan mistis yang tengah dicari Qraist Kingsley, pemimpin dari Temperance.

Gaya permainan Gyromancer mirip dengan Puzzle Quest. Yang berbeda adalah teknik memutar jewelnya. Di Gyromancer pemain harus membuat match dari warna yang sama dengan memutar jewel searah jarum jam. Minimal ada tiga warna yang sama sejajar baik horizontal atau vertikal, maka akan terjadi match dan jewel tadi hilang. Awalnya butuh sedikit latihan, tapi tidak begitu sulit. Buat yang pernah main Bejeweled pasti tidak akan bingung.


Bagaimana jika tidak terjadi match?  Ini disebut dengan Idle Twist dan pemain yang melakukannya akan kena penalti. Di layar akan muncul jewel dengan tengkorak yang ada timernya. Timer ini akan menghitung mundur dua kali lebih cepat. Jika timer habis dan pemain tidak membuat match dengan jewel yang ada tengkoraknya, maka jewel tadi meledak. Monster pemain akan menerima damage. Tapi Idle Twist juga berguna mencegah musuh membuat match, melakukan attack, atau menolong pemain menyusun kombinasi jewel yang lebih baik.

Sebagai summoner, Rivel tidak akan bertarung langsung melawan musuhnya. Rivel memanggil monster yang sebelumnya dipilih pemain. Tiap monster mempunyai warna jewel masing-masing yang menjadi elemen kekuatannya. Perhatikan warna ini karena punya kelebihan dan kelemahannya. Misalnya, Red Wyrm, naga merah, kuat melawan monster dengan jewel berwarna putih dan hijau. Sebaliknya, Red Wyrm lemah melawan monster dengan kekuatan jewel biru dan oranye.

Hanya monster dengan jewel ungu yang tidak ada kelemahannya. Jadi pemain yang pintar akan membawa monster jenis ini dalam kelompoknya. Sebagai gantinya, kemampuan khusus dari monster jewel ungu lebih sulit dikeluarkan.


Ada dua belas stage yang mesti dijelajahi pemain. Tiap stage berupa peta dengan jalur yang bercabang. Pemain bebas memilih jalur manapun yang akan dilewatinya. Pemain akan berpindah tempat menggunakan warp point yang mengarahkan Rivel ke tujuan yang sudah ditentukan. Kadang ada jalan yang dihalangi monster dan pemain harus mengalahkannya dulu. Tiap stage menyimpan objektif utama. Biasanya mengalahkan monster atau memecahkan puzzle sebelum waktu habis.

Monster yang dilawan Rivel akan lebih kuat di level selanjutnya. Karena monster pemain juga punya batas level maksimal, maka sebaiknya mengumpulkan Gyro Codes. Gyro Codes ini adalah bakal monster yang nantinya bisa dipanggil di Summoner’s Den. Jangan lupa melawan lima ultimate monster yang ada. Monster-monster ini memang super sulit, tapi jika berhasil dikalahkan mereka akan masuk koleksi pemain. Level monster ini juga sangat tinggi dan membuat koleksi monster lain seolah tidak ada gunanya.

Di Gyromancer tidak ada ability atau item yang di-equip pemain. Sebagai gantinya ada empat jenis item yang tersembunyi di peti harta karun. Sekali item ini diambil, maka tidak akan muncul lagi di peta. Item-item ini bisa menolong pemain menjalani duel yang sulit. Hock of Ham akan langsung meletakkan tiga ability monster yang sedang disummon pemain di arena. Magick Mirror membalik arah putaran jewel sebanyak satu giliran. Remedy akan membuang semua aura negatif pada monster pemain. Akhirnya, Magick Keys menghancurkan semua gembok yang ada di layar.


Grafis dan efek Gyromancer lebih baik dari Puzzle Quest dan Bejeweled, tapi masih terbilang standar.  Monsternya statis dan dialog antar karakter bergaya visual novel. Kalau saja Square Enix mau memberikan animasi atau cutscene mungkin akan lain ceritanya. Soundtracknya minim variasi, enak didengar tapi mudah dilupakan. Yang terbaik ketika boss battle, dibuat bergaya metal ala Jepang. Overall, bukan game Square Enix yang terbaik, tapi masih asyik dimainkan. Anda bisa mengunduh Gyromancer disini.

ONIMUSHA 3: DEMON SIEGE: KEMBALINYA SANG IBLIS NOBUNAGA


Salah satu mesin pencetak uang bagi Capcom adalah serial Onimusha. Bahkan serial ini unggul satu tingkat dari Devil May Cry dalam hal penjualan. Petualangan Samanosuke yang berusaha membunuh iblis Nobunaga sukses di episode pertamanya. Kisahnya berlanjut dalam Onimusha 3: Demon Siege. Kali ini ini Takeshi Kaneshiro sang pemeran Samanosuke tidak sendiri. Ada aktor kawakan Perancis Jean Reno sebagai Jacques Blanc siap membantunya.

Diceritakan Samanosuke Akechi telah kembali setelah mendapatkan kekuatan Onimushanya. Samanosuke ke Kuil Honnouji untuk bergabung dengan pasukannya demi membunuh Nobunaga Oda. Di Honnouji dia dihadang pengawal setia Nobunaga yaitu Ranmaru Mori, tapi Samanosuke berhasil melibasnya. Menjelang pertarungan final melawan Nobunaga, tiba-tiba tubuh Samanosuke tidak bisa bergerak. Samanosuke ditelan portal waktu berupa lubang hitam yang mengirimnya ke masa depan. 

Di tahun 2004 suasana yang tenang di Perancis tiba-tiba panik akibat serbuan para Genma. Jacques Blanc, seorang anggota polisi, melawan Genma dengan senapan semi otomatisnya. Di saat itu Samanosuke muncul di sebuah gang. Melihat Jacques terdesak, Samanosuke menolong Genma yang akan membunuhnya. Belum sempat mereka berbicara, tiba-tiba Jacques ditelan lubang hitam. Dia terlempar ke Jepang 500 tahun sebelumnya, atau tepat 10 hari sebelum Samanosuke melawan Nobunaga di Honnouji. 


Musuh di Onimusha 3 dibuat lebih ganas dari dua seri sebelumnya. Untungnya pemain punya banyak pilihan senjata. Sebagai samurai, Samanosuke dibekali pedang, kapak raksasa, busur dan anak panah untuk membunuh musuh yang terbang. Jacques menggunakan cemeti tajam untuk menyerang musuh dan berayun ke platform lain. Sepintas mirip Gabriel Belmont di Castlevania. Jacques juga punya pistol, tapi hanya bisa dipakai untuk finishing move. Setelah menangkap Genma dengan cemetinya, Jacques menginjak musuh tadi dan menembaknya sampai mati.

Pertarungan melawan boss cukup berat, tapi mereka punya pola tertentu. Pemain cukup mengamati dan menghafalkan pola serangannya. Kebanyakan pertarungan melawan boss berupa duel satu lawan satu. Kecuali Gildenstern, karena dia adalah ilmuwan dan tidak bisa bertarung. Gildenstern men-summon banyak Genma untuk menolongnya.

Di Onimusha 3 tiap senjata mempunyai tidak hanya berbeda ukuran dan kecepatan saja. Ada kekuatan special didalamnya yaitu angin, air, api, tanah dan es. Senjata juga diperlukan untuk membuka pintu dengan elemen tertentu. Baik Samanosuke dan Jacques harus mengupgrade armor dan gauntlet. Dengan begitu  defense mereka meningkat dan bisa menyerap soul lebih cepat.


Di setiap game Onimusha, selalu ada yang namanya critical attack. Tapi di Onimusha 3 ada sedikit perbedaan. Di game ini ada critical combo yang sangat sulit dilakukan karena butuh timing yang tepat. Jika berhasil, akan sangat menolong pemain di level selanjutnya. Pertama, pemain harus mendaratkan critical attack pada musuh, dan kemudian diikuti tombol serangan berikutnya. Serangan kedua dst akan menjadi critical attack yang ber-damage besar dan terus membelah musuh sampai serangan itu meleset atau di-block.

Yang agak aneh dalam game ini adalah jika Capcom mempertahankan Bahasa Perancis pada Jacques, mengapa mereka tidak melakukan hal serupa pada Bahasa Jepangnya Samanosuke? Disini Samanosuke sejak awal bicara Bahasa Inggris. Lucu rasanya jika Jacques tidak mengerti. Lagipula tahun 2004 pasti banyak orang Perancis paham Bahasa Inggris, khan? Di permainan ada Ako yang membantu kedua tokoh utama. Siapa Ako? Dia adalah Tengu (semacam peri) yang membantu Samanosuke dan Jacques dengan mengubah ucapan mereka ke Bahasa Inggris.
 
Karena gamenya seputar perpindahan waktu, apa yang Jacques lakukan di masa lalu akan mempengaruhi masa depan. Misalnya, jika di masa lalu Jacques membuka pintu tertentu, maka di masa depan Samanosuke bisa memasukinya. Baik Samanosuke dan Jacques kadang harus bekerja sama untuk memecahkan puzzle atau memberikan item. Bagaimana cara mereka bertukar item dan informasi? Jawabannya adalah lewat Ako.

 
Baik grafis dan soundtrack patut diacungi jempol. Sudut-sudut kota Perancis seperti Menara Eiffel, Katedral Notre Dame dan Gunung St. Michel digambarkan detil. Soundtracknya sesuai dengan tema. Misalnya di katedral musik choir yang terdengar, ketika boss battle terdengar ala mafia Itali. Yang terbaik mungkin di awal permainan ketika Samanosuke menuju Honnouji. Tahun 2004 mungkin saja sudah klasik. Tapi Onimusha 3: Demon Siege tetap sebuah masterpiece. Anda bisa mengunduh game ini disini.

BLAST FROM THE PAST: RESIDENT EVIL 3: NEMESIS


Sebagai penggemar serial Resident Evil, saya selalu berharap Capcom akan me-remake seri klasiknya. Dan ternyata Capcom mau me-remake Resident Evil 1 dan 0. Yang terbaru adalah Resident Evil 2 yang ketika artikel ini ditulis masih dalam pengerjaan. Ini kabar bagus buat fansnya. Tapi masih ada seri yang seharusnya diperhatikan oleh Capcom. Game itu adalah Resident Evil 3: Nemesis.

Tanggal 27 September 1998, atau tepat 24 jam sebelum even dalam Resident Evil 2, anggota S.T.A.R.S. Jill Valentine ingin keluar dari kota Raccoon. Sebagian besar penduduk kota telah terinfeksi Virus-T dan berubah menjadi zombie. Suasana tidak terkendali hingga polisipun kewalahan. Jill menuju ke kantor polisi, tapi disana mendapati teman satu timnya yaitu Brad Vickers dibunuh oleh monster Nemesis yang kejam. Jill harus mencari jalan meloloskan diri karena Nemesis tidak akan berhenti sebelum membunuh semua anggota S.T.A.R.S. Di sisi lain pemerintah akan meledakkan kota Raccoon dengan bom nuklir untuk membersihkan infeksi.


Dari Resident Evil 1 sampai Resident Evil: Code Veronica, Resident Evil 2 tetap yang terbaik. Tapi soal ketegangan, Resident Evil 3 ada di daftar puncak. Alasannya? Ada Nemesis sebagai musuh yang menakutkan dan mengintimidasi pemain. Desainnya sangar, bisa muncul dimana saja, gerakannya sangat cepat dan berbahaya. Mana ada musuh buatan Umbrella yang bisa memegang rocket launcher? Bahkan Ustanak di Resident Evil 6 tidak bisa menandingi keganasan Nemesis.

Di game kedua ada William Birkin yang bermutasi menjadi Tyrant. Pemain akan melawannya berkali-kali sampai dia benar-benar tewas di kereta api. Tampaknya Capcom meneruskan formula tadi dengan memberikan peran pada Nemesis. Bedanya, jika Nemesis muncul acak, kemunculan William sudah fixed di titik tertentu. Selain itu boss musuh di Resident Evil biasanya tidak punya peran penting. Begitu mati mereka tidak ada lanjutannya. Sekali lagi salut buat Capcom yang membuat Nemesis dan William Birkin sebagai boss yang susah mati.

Di Resident Evil 3 pemain hanya bermain sebagai Jill Valentine. Memang ada even dimana pemain mengendalikan Carlos Oliveira, seorang pasukan bayaran Umbrella. Tapi itupun hanya sekali dan singkat ketika Carlos mencari anti virus untuk Jill. Ah, kalau saja Capcom memasukkan Barry Burton sebagai playable karakter kedua pasti lebih seru. 


Untuk pertama kalinya, Resident Evil 3 memberikan pilihan jalur alternatif. Pada momen tertentu pemain akan diberi dua pilihan yang menentukan jalan cerita dan ending. Ini sebuah terobosan baru dalam serialnya. Dengan begitu pemain akan mengulang game untuk membuka ending dan epilogue. Ini juga menutup kritik atas gamenya yang terlalu singkat.

Puzzle juga tidak ketinggalan bagian dalam game ini. Kebanyakan puzzle memang logis, tapi yang paling menjengkelkan adalah di gorong-gorong. Disini pemain harus keluar dari fasilitas Umbrella dengan cara menganalisa sampel air. Caranya? Membuat tiga deret lampu sejajar cocok dengan sampel air. Frustasi? Sudah pasti, karena beberapa puzzle di Resident Evil 3 memang dibuat random. Pemain tidak akan menemui pola yang sama jika mengulang gamenya.

Disini ada unlockable yang menarik yaitu mini game The Mercenaries: Operation Mad Jackal dan kostum baru untuk Jill. Dalam The Mercenaries pemain adalah pasukan bayaran Umbrella dan mulai dengan inventory yang terbatas. Dengan membunuh zombie, menyelamatkan warga dan menjelajahi area tersembunyi akan menambah waktu dan amunisi. Di akhir misi performa pemain akan dievaluasi dan diberi uang sebagai penghargaan. Uang ini bisa dipakai membeli senjata baru dengan amunisi tidak terbatas. Di versi PC dan Dreamcast kedua The Mercenaries dan kostum untuk Jill sudah terbuka dari awal.


Final words, Resident Evil 3 sungguh memorable. Jika capcom mau me-remake game ini dengan engine baru, pasti banyak gamer yang setuju. Benar-benar remake, bukan cuma upgrade resolusi game ke versi HD. Anda bisa mengunduh Resident Evil 3: Nemesis disini.

INFINOS GAIDEN: EDISI KEEMPAT SHOOTER ALA R-TYPE DARI PICORINNE SOFT


Sulit dipercaya bila di jaman seperti sekarang masih ada developer yang membuat game dengan grafis retro. Salah satunya adalah developer indie Jepang Picorinne Soft yang membuat serial Infinos. Game pertamanya ditawarkan sebagai freeware dan sekuelnya dijual di platform online seperti Playism. Infinos adalah shooter yang terinspirasi dari Gradius dan R-Type.

Melanjutkan dari game keduanya, manusia berhasil menang melawan ras alien asing Argus Forces. Beberapa dekade kemudian Federasi Infinos membentuk jaringan pertahanan sebagai antisipasi serangan alien. Semua berjalan baik sampai satu pesawat pengintai memberikan transmisi tentang wormhole asing di dekat Planet Gralia. Pesawat itu menghilang, dan memberi sinyal jika bumi akan mendapat ancaman baru.

Dalam Infinos Gaiden pemain berjuang dalam tujuh stage menembaki pesawat dan robot yang berkeliaran di udara maupun darat. Pemain akan mendapat sepasang satelit yang memberi tambahan kekuatan tembakan dan memberi pertahanan. Kedua satelit ini melayang di samping pesawat pemain dan bisa diatur posisinya. Jenis senjata bergantung dari warna satelit yang dipilih pemain. Memilih satelit yang tepat adalah kunci bertahan hidup di permainan ini.


Sebagai game keempat, tidak banyak upgrade yang diberikan Infinos Gaiden. Grafis permainan masih bergaya 16-bit karena dikembangkan dengan engine STG Builder. Dan engine ini memang bisa mewakili shooter arcade retro yang berjaya di masanya. Urusan soundtrack developer masih mempercayakan pada Hyakutaro Tsukumo. Bagi yang belum tahu, Tsukumo sebelumnya banyak membuat soundtrack untuk game shooter seperti Thunder Force dan Broken Thunder.

Bermain game shooter seperti Infinos Gaiden tantangannya adalah mencetak skor tinggi dan tanpa continue. Setelah itu sulit rasanya pemain akan mengulangi game ini lagi. Infinos Gaiden cocok hanya jika Anda adalah penggemar arcade shooter tahun 90-an. Jika ingin merasakan sensasi klasiknya, Infinos Gaiden ini bisa diunduh disini.